Sore itu kita berpapasan
Tapi mengapa tak saling menyapa?
Sore itu mata kita beradu
Tapi mengapa kau cepat-cepat memalingkan jendela matamu?
Sore itu bibirmu yang tipis
Menyunggingkan senyum tepat ke arahku
Ah!
Tapi buru-buru kau melepaskan senyuman itu
Kau sadar tidak?
Angin-angin sedang menertawakan kita
Kau dengar tidak?
Pohon-pohon itu amat puas menggunjingkan kita
Kau tau tidak alasannya?
Awalnya angin-angin itu berencana memberikan kesejukkan di antara kita
Tapi kau malah mengenyahkannya dari sini
Lihat pohon-pohon itu!
Tadinya mereka ingin melindungi kita
Dari panasnya siang yang menerka
Tapi kau?
Kau malah menebang pohon itu!
Siapa yang salah?
Kau! Kau terlalu munafik untuk mengakui pada semesta
Bahwa akulah yang kini bernaung di atas permadani hatimu
Sedangkan aku?
Mungkin... aku pun juga salah
Karena... aku yang memaksamu untuk menggelar permadani itu
Minggu, 15 Januari 2017
Sabtu, 20 Agustus 2016
Bebaskan Aku dari Phobiaku
17
Agustus 1945 memanglah hari kemerdekaan Indonesia. Tapi, apakah kita
benar-benar sudah merdeka? Merdeka dalam hal ini bukan saja kita sudah bebas
dari belenggu para penjajah. Bukan pula kita sudah berhenti menumpahkan darah.
Bukan! Bukan itu! Merdeka yang kumaksudkan di sini ialah merdeka dari rasa
takut untuk mencintai seorang lelaki. Bagiku, aku belum bisa merdeka dari rasa
takut itu.
Pasalnya,
sering sekali aku menemukan lelaki yang menurutku sangat baik, tampan, dan
pokoknya sudah pas sekali dengan kriteria yang aku inginkan. Tapi rasa
ketakutan itu selalu hinggap di benakku. Takut? Takut apa? Takut kalau nantinya
aku akan disakiti, ditinggalkan, dan dikhianati olehnya. Bukan hanya itu, aku
juga takut kalau nantinya aku akan menyakiti dan mengkhianati dirinya.
Aku
takut kalau aku tidak bisa menjadi pendamping yang baik untuknya, takut tidak
bisa membahagiakannya, takut mengecewakannya, takut melukainya, dan aku juga
takut ketika aku menikah dengannya nanti aku akan bercerai dengannya. Aku ingin
sekali seperti orang lain yang bisa bebas mencintai seseorang tanpa khawatir
memiliki perasaan takut semacam itu. Aku iri dengan keadaan wanita-wanita yang
bisa “normal” ketika mencintai seorang pria. Kata orang “apa yang aku rasakan
justru adalah suatu hal yang wajar dan normal, karena setiap orang terutama
wanita pasti tak mau jika ia disakiti oleh kekasihnya, dan juga pasti tidak mau
menyakiti pasangannya”. Tapi, menurutku ini merupakan hal yang sudah diambang
batas kewajaran. Memang benar setiap orang tidak ingin jika ia disakiti oleh
kekasihnya. Memang benar jika setiap orang tidak mau menyakiti kekasihnya.
Tapi,
apakah wajar jika perasaan takut itu terus-menerus menggerogoti darah dan
dagingku? Merasuk di dalam rongga hatiku? Membuat aku tak bisa dekat dengan
pria? Aku pernah dekat dengan pria. Aku pernah mencintai pria. Aku juga pernah
dicintai oleh pria. Tapi rasa kecintaanku terhadapnya itu seketika memudar oleh
phobia tersebut. Aku tidak mau lagi mencintai pria tersebut. Bahkan jika dekat
aku hanya menganggapnya sekadar teman saja, tak lebih dari apapun. Jika ada pria
yang mencintaiku, aku hanya mengangapnya angin lalu saja, tak pernah terbesit
sedikit pun untuk menghiraukan perasaannya.
Apa
sih yang menyebabkan aku seperti itu? Kepercayaan! Yup.. pernah dengar kan
kepercayaan bisa diibaratkan seperti suatu kaca yang retak, bisa diperbaiki
namun tak bisa kembali utuh seperti bentuk semula? Ya itulah keadaan diriku. Dahulu
aku pernah disakiti dan ditinggalkan oleh orang yang aku cintai. Bahkan ia
pergi menghilang tanpa kabar. Ketika dia pergi, hidupku terasa “pincang”, hampa
sekali. Sejak saat itu aku mulai berpikir bahwa “semua laki-laki sama saja”. Itulah
yang menyebabkan hidupku dirundung phobia cinta yang entah aku pun tak tahu
kapan ini akan berakhir. Aku tidak ingin seumur hidupku dirundung phobia cinta.
Aku ingin bisa merdeka dari phobia tersebut. Aku ingin bebas mencintai pria
yang aku cintai tanpa dirundung oleh rasa ketakutan yang bertubi-tubi. Aku
ingin merdeka! Tapi aku juga tak tahu dengan cara apa aku bisa memerdekakan
diri dari phobia tersebut. Aku sudah berusaha sekuat tenagaku untuk
menghilangkan phobia itu dengan cara berdoa dan berpikiran positif bahwa tidak
semua laki-laki seperti itu. Aku sudah berpikiran bahwa di luar sana masih ada
pria baik yang tidak akan menyakiti, meninggalkan, dan mengkhianatiku. Aku juga
punya cita-cita bahwa suatu saat nanti jika aku sudah merdeka alias sembuh dari
phobia cinta, aku berjanji akan menjadi sebaik-baik pendamping untuknya, tak akan
menyakiti, mengkhianati dan bahkan meninggalkannya.
Minggu, 14 Agustus 2016
Hal-Hal Gila yang Dialami Saat KKN
Kuliah
Kerja Nyata atau yang akrab disapa dengan sebutan KKN memanglah suatu hal yang
sudah tidak asing lagi di telinga para mahasiswa semester 5. KKN merupakan
salah satu mata kuliah yang wajib, kudu, dan harus dilakukan oleh para mahasiswa
semester 5 karena kegiatan tersebut merupakan suatu bentuk pengabdian kita
sebagai mahasiswa kepada masyarakat, bangsa dan negara #eaaaa. Kegiatan
tersebut dilaksanakan selama satu bulan di suatu tempat (bahkan desa) yang tak
pernah kita kunjungi sebelumnya, dan juga harus tinggal bersama dengan
teman-teman yang tak pernah kita tahu sifat, kepribadian, dan latar
belakangnya. Sedih sih awalnya, karena selain hal-hal tersebut, KKN juga yang
membuat kita berpisah untuk sementara dengan keluarga yang amat sangat kita
cintai. Eiiiitss tunggu dulu! Itu hanya awalnya saja kok, padahal banyak loh
kegilaan yang kalian lakukan saat KKN berlangsung. Mau tahu? Yuuuukkss kita
baca inilah kegilaan-kegilaan yang kalian lakukan saat KKN, cekidooot:
- Jaim-Jaiman
Saat
KKN, kita tidak hanya bekerja dengan teman-teman satu jurusan saja loh! Tapi
kita “dipaksa” berkenalan, berteman, dan bekerja dengan teman-teman baru.
Kenapa di sini saya katakan “dipaksa”? Karena bayangkan saja kita akan hidup
serumah dengan orang-orang yang belum kita tahu seluk-beluknya. Awalnya memang
dalam benak kita pasti berpikiran bahwa “ih apa sih rasanya tinggal serumah dengan orang yang ga dikenal selama
satu bulan?”, atau bahkan pasti pernah ada yang berpikiran “ih nanti apa aja
yang akan gue omongin sama mereka selama satu bulan? Masa nanti gw diem-dieman
aja gitu sama mereka selama sebulan?”. Ayo ngaku, pasti pernah ada yang
berpikiran seperti itu deh! Nah saat kalian berkenalan dengan teman-teman baru
pun (saat kalian masih 1 mingguan tinggal di rumah KKN tersebut) pasti kalian
masih jaim deh alias Jaga Image. Bersikap sok cantik, sok manis, sok imut sok
kalem, sok ganteng, sok polos, dan sok-sokan yang lain agar dianggap baik di
mata teman-teman baru kalian. Bahkan untuk berbicara pun kalian hanya
seperlunya saja. Iya kan?
2
- Denda Berbicara Kasar
Nah,
awal-awalnya sih kami masih jaim-jaim gitu deh. Tapi, setelah kami mengenal
satu sama lain, mulai keluar deh tuh sifat-sifatnya dari mulai sifat baik
sampai sifat yang buruk. Bahkan kami sudah mulai berani deh tuh berbicara kasar
dan jorok kepada teman-teman kami. Nah untuk meminimalisasi ungkapan-ungkapan
kasar dan jorok tersebut, maka kami membuat peraturan-peraturan “aneh” (tapi
oke juga sih). Apa aja sih peraturan-peraturan itu? yuk kita simak
a. Berbicara
Kasar, contohnya: b*g* denda Rp. 2.000
b. Mengatai
teman, contohnya: gendut, kanjeng mami, pitbul, bawel, dan sebagainya akan didenda
Rp. 5.000
c. Menyebarkan
foto-foto aib teman, contohnya: saat temanmu sedang tidur, lalu dia ileran,
kemudian kamu foto dan kamu sebarkan di grup WhatsApp kelompok KKN maka akan
didenda Rp. 10.000
(Denda
tersebut tidak berlaku di hari Minggu, karena hari Minggu kami dibebaskan untuk
mengatai teman-teman kami dan menyebarkan foto aib mereka). Nah dengan adanya
denda-denda tersebut maka kami bisa menjaga hati (Yovie and Nuno kali ah,
hehehe...), lisan dan nafsu kami untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan itu.
Tapi, yah namanya juga anak muda yang selalu dihasut oleh setan, maka kami pun
khilaf dengan mengatai satu sama lain. Hingga akhirnya 9 dari 10 anggota
kelompok kami khilaf dan membayar denda tersebut (sedih banget kan?). Loh kenapa
hanya 9 orang yang membayar denda? 1 orangnya lagi? Yaa karena anggota kelompok
kami yang satunya lagi itu merupakan sosok yang religius, taat terhadap Tuhan
yang Maha Esa, abdi terhadap tanah air dan bangsa (loh kenapa jadi janji siswa
sih? -_-) makanya dia tidak pernah sekalipun berkata kotor, jorok, keji, dan
munkar terhadap teman-temannya (salehah banget kan yaaa?). Dari hasil
pembayaran denda tersebut selama kurang lebih tiga minggu, akhirnya kami
berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp. 300.000. Uang tersebut “rencananya” akan
dialokasikan untuk ngumpul-ngumpul dan makan bersama. Tapi yaaah namanya juga
manusia, rencana hanya sebatas rencana saja, Tuhan lah yang menentukan
(hiiikkss....)
- Gibah
Kelompok
KKN kami kebanyakan anggotanya adalah wanita. Maka tak heran lah kalau kami
sering menggibah. Ketika ada teman satu kelompok kami yang melakukan kesalahan,
maka kami langsung masuk ke dalam kamar, mengunci pintu kamar tersebut lalu
mulai menggibah. Ketika ada yang ingin masuk kamar dan mengetuk pintu, kami
berhenti gibah, dan langsung menanyakan terlebih dahulu “siapa?”, jika yang
ingin masuk kamar adalah orang yang bukan objek pembicaraan gibah kita, maka
kami buka pintunya dan anehnya orang tersebut langsung peka “ih lagi gibah lu
ya?” dan akhirnya dia pun ikutan. Tetapi, jika yang mengetuk pintu tadi adalah
sosok objek pembicaraan gibah kita, maka kami langsung diam, mengganti topik
pembicaraan, dan membukakan pintu untuknya. Jika orang itu telah pergi, maka
pintu kembali dikunci dan mulai lagi membicarakannya.
- Makan Bareng (Bacakan)
Karena
tempat KKN kami terletak di Provinsi Banten, maka ada suatu adat yang bernama bacakan. Apa itu bacakan? Jadi gini, bacakan
itu adalah suatu adat makan bersama dari Banten yang makanannya tersebut
diletakkan di atas daun pisang. Biasanya makanannya itu adalah nasi putih,
tempe orek, ikan asin, dan sambel. Kegiatan tersebut biasanya kami ikuti jika
di sana ada acara saja misalnya perpisahan di sekolah, demo masak, dan
sebagainya. Nah kegiatan bacakan ini sangat terasa sekali kebersamaannya. Maka
tak heran kami pun sering melakukan juga di rumah, bersama dengan teman-teman.
Namun, kami meletakkan makanannya tidak di atas daun pisang, tetapi di atas
baskom. Makanannya pun bukan nasi putih, tempe orek, ikan asin, dan sambel,
melainkan mie instan atau nasi goreng (loh?). Ah tak apalah yang penting tetap
terasa kebersamaannya. Bacakan di rumah tidak kalah seru dengan di tempat
lainnya, karena kami menggunakan baskom sebagai media tempat meletakkan
nasinya, maka kami bisa menggeser-geser baskom tersebut sesuka hati kita, alias
ke tempat di mana kita berada saja (jadi kami suka berebutan menggeser baskom
tersebut). Selain itu, karena kami merupakan predator yang handal maka tak
heran seberapa banyak pun nasi yang kami letakkan dalam baskom, tetap saja
habis dimakan.
- Bonceng Tiga Pakai Rok
Karena
letak rumah yang kami tempati itu jauh dari sekolah tempat kami mengajar, maka
setiap harinya kami berangkat sekolah dengan motor. Kemudian, karena anggota
kelompok kami segambreng, jadi satu motor tidak hanya ditumpangi oleh dua orang
saja, tetapi oleh tiga orang loh (untung bukan di Jakarta, coba kalau di
Jakarta pasti kami sudah dibilang cabe-cabean hehehe). Bukan hanya itu, kami
bertiga pun semuanya mengenakan rok! Jadi, coba bayangkan bagaimana posisi
duduknya? Yah, sang pengemudi tentunya duduk menghadap ke depan, orang kedua
yang berada di tengah duduk dengan posisi menyamping, sedangkan orang ketiga
yang berada di belakang duduk dengan posisi menghadap ke depan. Jalanan menuju
ke sekolahannya pun menanjak, jadi yang duduk di tengah deg-degannya setengah
mati karena takut terjatuh. Ingin mencoba? Silakan saja, dan rasakan
sensasinya.
- Naik Bakter
Bakter
(re: bak terbuka). Tahukan mobil bakter? Yup, mobil bakter adalah mobil bak
yang bagian belakangnya terbuka dan bisa ditumpangi oleh manusia, hewan,
ataupun benda. Mobil tersebut sangat ngehits di tempat KKN kami. Pasalnya, di
sana kalau kami ingin pergi kemana-mana pasti selalu menumpang mobil bakter
orang. Caranya adalah kami berdiri di pinggir jalan (yaiyalah di pinggir jalan,
kalau di tengah jalan kan nanti tertabrak hehehe), kemudian ketika ada mobil
bakter yang lewat, kami melambaikan tangan untuk mendapatkan tumpangan.
Tumpangan yang diberikan oleh pemilik bakter ini “cuma-cuma” loh alias GRATIS!
Tanpa dipungut biaya! Walaupun itu jaraknya jauh loh! Duuuh baik banget kan
abang-abang bakter di sana? Naik bakter sangat seru loh apalagi kalau
sore-sore, wiiiih kami bisa menikmati AC (Angin Cepoi-Cepoi) yang tentunya
terasa segar banget. Orang-orang yang melihat kami pun tidak ada yang merasa
heran, karena di sana sudah terbiasa naik bakter. Coba kalau di sini pasti
orang-orang akan mengatakan kami “makhluk Tuhan yang paling Alay”..
- Jalan Kaki Lima Kilo
Di
sana akses kendaraan sangat terbatas. Terutama bakter. Di sana kami tidak
selalu mendapatkan bakter, bahkan menemukannya pun sulit. Pernah suatu ketika
kami selesai melaksanakan tugas di Posyandu dan bergegas pulang ke rumah. Di
jalan, kami menunggu bakter yang lewat. Tetapi apalah daya kami tidak berjodoh
dengan abang-abang bakter tersebut (hikkss...). Akhirnya dengan berat hati dan
berat badan teman kami maka kami putuskan saja untuk pulang ke rumah dengan
berjalan kaki (padahal itu jaraknya 5 kilometer loh). Sedih banget kan? Udah
jomblo, ga ada yang jemput, jalan kaki 5
Km lagi, ngenes banget Yaa Allah..
- Tidur Satu Kasur 5-6 Orang
Rumah
yang kami tempati di sana hanya memiliki tiga kamar. Satu kamar ditempati oleh
pemilik rumah, dan dua kamar lainnya ditempati oleh kami. Makanya kami kalau
tidur dempet-dempetan. Satu kasur bisa 5-6 orang loh. Terkadang, jika sedang
iseng, kami sengaja bergeser-geser kepada salah satu teman kami agar dia merasa
sesak dan kesempitan. Walaupun sesak, tetapi kami sangat senang. Karena dengan
tidur dempet-dempetan seperti ini, posisi kita juga jadi semakin dekat. Kalau
posisi kita dekat hati kita pun akan semakin dekat, dan itu artinya kami akan
memiliki ikatan batin yang sangat kuat dan dekat layaknya sebuah keluarga
(eaaaaa...).
- Antre Kamar Mandi
Saat
KKN, rumah kami ditempati oleh 20 orang mahasiswa. Oleh karena itu, kami harus
ekstra sabar dalam menghadapi apapun, terutama menunggu teman yang sedang
mandi. Walaupun rumah yang kami tempati sangat luas, tetapi di sana hanya ada
satu kamar mandi. Bayangkan saja, satu kamar mandi digunakan untuk 20 orang.
Makanya kami rela bangun pukul 04.00 pagi demi mendapatkan nomor antrean
pertama untuk mandi. Dingin sih jam segitu mandi, yaa tapi apa boleh buat,
semakin siang kami bangun, maka semakin lama pula kami mandi. Oleh karena itu,
terkadang kami melakukan hal “licik”, yakni ngetap-in nomor antrean mandi
duluan di grup WhatsApp, dengan mengetik “gue mandi pertama”, “gue kedua”, dan
seterusnya sampai bang toyib pulang. Padahal kita kan tinggal serumah, tinggal
bilang aja apa susahnya yaa, dan ga semua teman-teman kita pegang HP loh,
jadinya kasihan kalau yang ga pegang HP, lalu mendapatkan urutan terakhir.
Yaaah namanya juga usaha yaaa guys...
- Jujur-Jujuran Sampai Jam 2 Malam
Saat
malam Jumat, dua hari terakhir menjelang kami berpisah. Kami mengadakan
jujur-jujuran. Semua anggota kelompok harus menjawab dengan jujur
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh anggota lainnya.
Pertanyaan-pertanyaannya sih sepele yaaa misalnya “siapa cowok/cewek yang lu ga
suka?”, “punya perasaan khusus ga sama teman KKN? Kalau punya, lu suka sama
siapa?” dan segala macam pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur. Selain
pertanyaan, kami diwajibkan untuk menceritakan segala kesan dan pesan selama
kita hidup satu atap dan satu ranjang (temanku saja ada yang sampai hampir
menangis ketika menceritakannya, baru hampir sih karena gara-gara saya
bercandain jadinya dia ga nangis deh hehehe...). Bahkan ada juga loh yang
sampai menceritakan suatu mimpi yang dialaminya. Seru banget sih jujur-jujuran,
karena dengan kegiatan tersebut kami jadi saling mengetahui rasa suka dan rasa
ketidaksukaan mereka. Saking serunya, kami jujur-jujuran sampai pukul 2.00 pagi
loh. Itu di malam Jumat, untung jumlah kami yang ikut jujur-jujuran tetap 10
orang, coba kalau bertambah? Iiiih sereeem...
- Makan Ayam Sabana Berasa Makan Rendang
Saat
KKN, kami jarang sekali makan ayam. Bahkan kalau kami makan ayam pun itu juga
kiriman dari orang tua teman yang berkunjung ke rumah kami. Untungnya, di sana
ada yang jualan ayam sabana loh dan harganya juga sangat pas dengan kantong
mahasiswa perantau. Maka tak heran, ketika pertama kali kami melihat ada tempat
yang menjual ayam sabana, mata kita langsung terbelalak dan mengucap syukur
kepada Tuhan yang Maha Esa. Akhirnyaaa.... kami bisa makan ayam juga. Mulai
saat itu kami jadi sering membeli ayam sabana. Dan, tahukah kalian? Rasa ayam
sabana di sana sangat jauh berbeda dengan yang ada di sini. Kalau di sini sih
makan ayam sabana tuh yaaa gimana yaaa... biasa aja gitu ga ada yang spesial.
Tetapi kok kalau kami makan ayam sabana di sana entah mengapa rasanya jadi
spesial, seperti makan rendang gitu deh. Entah ini ayam sabananya yang terasa
spesial, ataukah teman-teman KKN-ku yang sangat spesial di hati?
- Makan Martabak
Di
sana, selain ada tukang ayam sabana, ada juga loh tukang martabak. Loh ini KKN
atau liburan? Ini KKN loh, iya KKN, atau mungkin bisa disebut juga KKN rasa
liburan. Yupps di sana ada yang menjual martabak dengan harga yang murah. Mau
tahu harganya? Harganya hanya Rp. 5.000 sampai 10.000 loh. Murah banget kan ya?
Martabaknya pun tak kalah enak dengan martabak yang ada di Jakarta. Ada banyak
rasanya juga, mulai dari coklat, coklat-kacang, coklat-keju, coklat-keju-susu,
kacang hijau, ketan hitam sampai rasa indah yang kulalui bersamamu juga ada kok *eh. Terkadang kami merasa sangat bersyukur KKN
kami ditempatkan di daerah yang enak, rumah yang luas, dan ada jualan martabak
serta ayam sabananya. Mungkin ini dikarenakan kami adalah anak yang saleh dan
salehah kali yaa... Makanya Allah sangat sayang kepada kami hehehe....
- Cari foto-foto Alay (Aib) Kami di Facebook
Seperti
kata pepatah “sahabat adalah orang yang gemar mengoleksi foto-foto aibmu”.
Yuups ungkapan ini sangat tepat sekali bagi kami. Pasalnya, selain sebagai
ajang untuk mengabdi kepada masyarakat, ternyata KKN juga merupakan ajang untuk
pencarian foto-foto alay kita yang ada di facebook. Dahulu, zaman-zamannya kita
SMP dan SMA pasti sering sekali berfoto dan foto tersebut diunggah ke facebook
(karena pada saat itu media sosial yang sedang tren di kalangan kami ya memang
facebook). Setelah menemukan foto-foto alay mereka di facebook, maka kami
berencana untuk menyebarkannya di grup WhatsApp. Eiiitss tunggu dulu, kalau
kalian menyebarkannya di sembarang hari, maka bersiap-siaplah kalian didenda
10.000. Oleh karena itu, jika ingin menyebarkannya, maka kalian harus ekstra sabar
untuk menunggu di waktu yang tepat (karena segala sesuatu akan indah pada
waktunya, eaaaa....), yakni di hari Minggu. Yups, seperti yang sudah dijelaskan
sebelumnya, bahwa hari Minggu adalah hari libur kita, hari di mana kita bebas
untuk mengatai teman-teman kita dan juga bebas untuk menyebarkan foto-foto alay
mereka.
Seru
banget kan KKN itu? Jadi, jangan pernah berpikir bahwa KKN itu merupakan sebuah
penyiksaan yang diberikan oleh kampus yaa. Karena dengan adanya KKN kita dapat
memperoleh banyak manfaat, dan juga melakukan banyak hal. Cukup sekian dulu
cerita KKN-ku, tak terasa ini sudah bulan keenam di mana KKN telah pergi meninggalkan
kita. Tapi aku harap kita tetap menjalin tali silaturahim sampai akhir hayat kita..
Senin, 29 Februari 2016
Dariku yang Tak Mungkin Memilikimu
Aku tak pernah tau apa yang ada di pikiranmu...
Hingga kau tak pernah mau tau tentang aku...
Sekejap pun kau tak mau melihatku...
Apakah engkau pernah tau?
Di setiap tidur malamku bayangmu selalu hadir...
Di setiap hela napasku selalu terselip namamu...
Dan kau tak tau kan?
Aku selalu membuat titik di hatiku yang akan aku hubungkan hingga menjadi garis-garis cinta...
Garis itu akan aku rajut hingga membentuk ukiran namamu...
Kau tak tau dan mungkin tak akan mau tau tentang perasaanku...
Hatiku...
Dan segala rasa tentang rinduku...
Andai kau mau tau tentang semuanya...
Aku tak akan memintamu untuk mencintaiku...
Aku tak akan memaksamu untuk masuk ke duniaku...
Aku hanya ingin kau tau sedikit saja tentang aku...
Sedikit saja tentang rasaku, rasa ini, rasa cinta...
Selamanya kau tak akan tau di sini ada aku yang selalu berharap untuk kebahagianmu...
Aku yang menyimpan sejuta perasaan untukmu dan aku tak akan mungkin memilikimu...
Hingga kau tak pernah mau tau tentang aku...
Sekejap pun kau tak mau melihatku...
Apakah engkau pernah tau?
Di setiap tidur malamku bayangmu selalu hadir...
Di setiap hela napasku selalu terselip namamu...
Dan kau tak tau kan?
Aku selalu membuat titik di hatiku yang akan aku hubungkan hingga menjadi garis-garis cinta...
Garis itu akan aku rajut hingga membentuk ukiran namamu...
Kau tak tau dan mungkin tak akan mau tau tentang perasaanku...
Hatiku...
Dan segala rasa tentang rinduku...
Andai kau mau tau tentang semuanya...
Aku tak akan memintamu untuk mencintaiku...
Aku tak akan memaksamu untuk masuk ke duniaku...
Aku hanya ingin kau tau sedikit saja tentang aku...
Sedikit saja tentang rasaku, rasa ini, rasa cinta...
Selamanya kau tak akan tau di sini ada aku yang selalu berharap untuk kebahagianmu...
Aku yang menyimpan sejuta perasaan untukmu dan aku tak akan mungkin memilikimu...
Sabtu, 31 Januari 2015
Puisi untuk Calon Pemimpinku
Senja berganti malam...
Matahari tenggelam dan hanyut dalam lautan hening...
Angin berembus dengan kencang...
Seolah-olah ingin menyampaikan pesan untukmu
Wahai calon pemimpin...
Ya...
Sebuah pesan yang kutulis dengan menggunakan tinta...
Tinta... yang tentunya bukan sembarang tinta...
Melainkan tinta yang terbuat dari lelehan air mata kebanggaan...
Tinta yang juga terbuat dari cinta yang tentunya dapat membuatmu
mencintai pula pekerjaanmu nanti...
Pemimpin...
Satu kata yang ratusan orang menumpukkan harapannya di pundakmu nanti...
Harapan untuk menjadikan jurusanmu ke arah yang lebih baik lagi...
Pemimpin...
Delapan huruf yang mewakili lebih dari 80% sepasang tangan
yang selalu menengadahkan tangannya untukmu...
Termasuk tanganku yang akan selalu mendoakanmu
untuk keberhasilanmu dalam memperjuangkan masa depan jurusanmu nanti...
Karena hanya kepadamu harapan kusandangkan...
Hanya kepadamu cita-cita dipertaruhkan...
Oh Calon Pemimpin...
Bangkitlah melawan arus yang kini menghalaumu...
Jagalah dirimu dengan sikap optimis...
Lawanlah kerikil-kerikil tajam yang kini menghadangmu...
Tetap semangatlah...
Ingat, masa depan jurusanmu ada di tanganmu...
Walaupun Aku tak bisa memilihmu...
Tapi Aku yakin Allah-lah yang akan memilihmu...
Matahari tenggelam dan hanyut dalam lautan hening...
Angin berembus dengan kencang...
Seolah-olah ingin menyampaikan pesan untukmu
Wahai calon pemimpin...
Ya...
Sebuah pesan yang kutulis dengan menggunakan tinta...
Tinta... yang tentunya bukan sembarang tinta...
Melainkan tinta yang terbuat dari lelehan air mata kebanggaan...
Tinta yang juga terbuat dari cinta yang tentunya dapat membuatmu
mencintai pula pekerjaanmu nanti...
Pemimpin...
Satu kata yang ratusan orang menumpukkan harapannya di pundakmu nanti...
Harapan untuk menjadikan jurusanmu ke arah yang lebih baik lagi...
Pemimpin...
Delapan huruf yang mewakili lebih dari 80% sepasang tangan
yang selalu menengadahkan tangannya untukmu...
Termasuk tanganku yang akan selalu mendoakanmu
untuk keberhasilanmu dalam memperjuangkan masa depan jurusanmu nanti...
Karena hanya kepadamu harapan kusandangkan...
Hanya kepadamu cita-cita dipertaruhkan...
Oh Calon Pemimpin...
Bangkitlah melawan arus yang kini menghalaumu...
Jagalah dirimu dengan sikap optimis...
Lawanlah kerikil-kerikil tajam yang kini menghadangmu...
Tetap semangatlah...
Ingat, masa depan jurusanmu ada di tanganmu...
Walaupun Aku tak bisa memilihmu...
Tapi Aku yakin Allah-lah yang akan memilihmu...
Sepertiga Malam
Malam ini bintang memancarkan cinta...
Bulan tersenyum sayang...
Dan angin mendesir rindu...
Tahukah kau ?
Malam ini aku termenung dalam sepertiga malam...
Menengadahkan tangan di atas hamparan sajadah ...
Kemudian kukirimkan doa ini untukmu...
Allahu Rabbi...
Sejak dulu telah tertanam dalam jiwaku...
Sebuah cinta suci untuk dirimu...
Untuk lelaki yang telah Allah tulis di Lauh Mahfuz...
Andai kau tahu...
Cinta ini hadir atas kehendak-Nya...
Sayang ini hadir atas kuasa-Nya...
Sehingga tak ada satu orang yang mampu menghalanginya...
Ya Rabbi...
Anugerahkanlah dia kepadaku...
Dia yang selalu melabuhkan cintanya kepada-Mu...
Dia yang selalu menyebut asma-Mu disetiap hela napasnya...
Dan dia pula yang suaranya merdu bagaikan suara imam di Masjidil Haram...
Ya Rabbi...
Perkenankanlah doaku...
Sebab hanya doa yang bisa kupinta...
Kuharap malam tak akan berganti menjadi fajar...
Agar aku bisa terus mendoakanmu disepertiga malam ini...
Bulan tersenyum sayang...
Dan angin mendesir rindu...
Tahukah kau ?
Malam ini aku termenung dalam sepertiga malam...
Menengadahkan tangan di atas hamparan sajadah ...
Kemudian kukirimkan doa ini untukmu...
Allahu Rabbi...
Sejak dulu telah tertanam dalam jiwaku...
Sebuah cinta suci untuk dirimu...
Untuk lelaki yang telah Allah tulis di Lauh Mahfuz...
Andai kau tahu...
Cinta ini hadir atas kehendak-Nya...
Sayang ini hadir atas kuasa-Nya...
Sehingga tak ada satu orang yang mampu menghalanginya...
Ya Rabbi...
Anugerahkanlah dia kepadaku...
Dia yang selalu melabuhkan cintanya kepada-Mu...
Dia yang selalu menyebut asma-Mu disetiap hela napasnya...
Dan dia pula yang suaranya merdu bagaikan suara imam di Masjidil Haram...
Ya Rabbi...
Perkenankanlah doaku...
Sebab hanya doa yang bisa kupinta...
Kuharap malam tak akan berganti menjadi fajar...
Agar aku bisa terus mendoakanmu disepertiga malam ini...
Minggu, 27 April 2014
Surat untuk Sebuah Nama di Lauh Mahfuzh
Assalamualaikum, Cinta...
Salam mesra untuk kau yang masih berada digenggaman tangan-Nya. Apa kabar dirimu ? Semoga dalam setiap detakan jantungmu kau masih selalu dalam pelukan-Nya.
Wahai Jodohku, dalam kesempatan kali ini aku ingin menuliskan tinta pada kertas untuk menjadi saksi bisu atas kerinduanku padamu.Walau kita belum dipertemukan, walau belum saling mengenal. Tapi aku akan selalu menyampaikan kemesraan penuh cinta yang menembus batas ruang dan waktu.
Jodohku...
Apakah kau selalu memikirkanku ? Apakah kau selalu menunggu kedatanganku ? Seperti halnya aku yang selalu begitu padamu. Aku tak berharap banyak. Aku hanya ingin kita segera dipertemukan, kemudian disatukan dalam mahligai cinta-Nya.
Salam mesra untuk kau yang masih berada digenggaman tangan-Nya. Apa kabar dirimu ? Semoga dalam setiap detakan jantungmu kau masih selalu dalam pelukan-Nya.
Wahai Jodohku, dalam kesempatan kali ini aku ingin menuliskan tinta pada kertas untuk menjadi saksi bisu atas kerinduanku padamu.Walau kita belum dipertemukan, walau belum saling mengenal. Tapi aku akan selalu menyampaikan kemesraan penuh cinta yang menembus batas ruang dan waktu.
Jodohku...
Apakah kau selalu memikirkanku ? Apakah kau selalu menunggu kedatanganku ? Seperti halnya aku yang selalu begitu padamu. Aku tak berharap banyak. Aku hanya ingin kita segera dipertemukan, kemudian disatukan dalam mahligai cinta-Nya.
Langganan:
Postingan (Atom)
